Proses Produksi Dibasic Ester

Rate this post

Proses Produksi Dibasic Ester adalah senyawa kimia termasuk dalam kelompok ester, terbentuk dari reaksi antara alkohol dengan di basik karboksilat yaitu asam memiliki dua gugus karboksilat (-COOH). Proses produksi ini, kedua gugus karboksilat bereaksi dengan alkohol membentuk dua gugus ester (-COOR), sehingga menghasilkan molekul memiliki dua fungsi ester satu struktur. Struktur kimia ini memberikan sifat khas pada estasol, membedakannya dari ester biasa hanya memiliki satu gugus ester.

Secara fisik, proses di basik ester umumnya berupa cairan bening, tidak berwarna serta memiliki aroma ringan. Proses estasol juga di kenal memiliki titik didih tinggi maupun tekanan uap rendah, menjadikannya pelarut stabil maupun tidak mudah menguap. Selain itu, proses estasol bersifat biodegradable atau mudah terurai oleh mikroorganisme, sehingga ramah lingkungan serta tidak menimbulkan pencemaran jangka panjang. Proses sifat inilah membuatnya semakin populer berguna di berbagai produksi mengutamakan keselamatan ataupun keberlanjutan.

Berikut informasi lebih lanjut mengenai Proses Produksi Dibasic Ester.

Asam ester banyak berguna bagi industri sebagai pelarut, khususnya pembuatan cat, tinta cetak, pelapis maupun pembersih logam. Dibasic ester juga berkegunaan formulasi resin, plastik, serta produksi perawatan pribadi maupun farmasi. Kemampuannya untuk melarutkan berbagai senyawa baik bersifat polar maupun non-polar menjadikannya senyawa serbaguna dunia kimia industri. Selain itu, kestabilannya terhadap panas ataupun bahan kimia lain memperluas potensi aplikasinya di berbagai proses manufaktur.

proses produksi dibasic ester

Secara keseluruhan, proses produksi di basik ester adalah senyawa ester multifungsi memiliki peran penting di berbagai bidang industri modern. Dengan sifat kimia maupun fisika stabil, serta dampak lingkungan rendah, proses estasol menjadi pilihan tepat sebagai bahan alternatif dari pelarut organik konvensional berbahaya. Perkembangannya sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya bahan kimia lebih aman, efisien ataupun ramah lingkungan proses produksi masa kini.

Asam ester berguna secara luas industri karena memiliki karakteristik sebagai pelarut ramah lingkungan, tidak mudah menguap serta aman berguna formulasi pelapis, tinta, pembersih, pelarut polimer ataupun produksi otomotif.

  1. Bahan Baku & Prinsip Dasar

Proses produksi dibasic karboksilat memulai dari bahan baku utama yaitu:

  • Asam carboksilat, seperti adipat (C₆H₁₀O₄), glutarat (C₅H₈O₄) maupun di basik suksinat (C₄H₆O₄).
  • Metanol (CH₃OH) sebagai alkohol reaktan utama.
  • Katalis asam seperti sulfat (H₂SO₄), resin penukar ion, atau katalis padat lainnya.

Proses reaksi terjadi adalah reaksi esterifikasi, yaitu reaksi antara gugus karboksilat dari asam dengan gugus hidroksil dari alkohol menghasilkan ester & air sebagai produksi samping. Pada proses reaksi ini bersifat reversibel, sehingga memerlukan strategi tertentu untuk menggeser kesetimbangan reaksi ke arah pembentukan ester (proses produksi DBE).

Contoh reaksi esterifikasi:

HOOC-(CH2)4-COOH+2𝐶𝐻3𝑂𝐻→CH3OOC-(CH2)4-COOCH3+2𝐻2𝑂

Esterifikasi berlangsung optimal pada suhu tinggi (sekitar 120–150°C) & dengan penghilangan air secara kontinu untuk mendorong laju reaksi ke arah produksi.

  1. Tahapan Produksi Asam Karboksilat

Proses produksi dibasic karboksilat secara umum terbagi ke beberapa tahapan utama, yaitu pencampuran, reaksi, pemurnian & formulasi akhir. Masing-masing tahap memerlukan kondisi mengontrol secara ketat menjamin mutu produksi akhir.

  • Pencampuran Reaktan

Langkah pertama proses adalah mencampurkan di basik carboksilat ataupun metanol perbandingan molar sesuai ke reaktor esterifikasi. Biasanya, metanol berguna jumlah berlebih membantu mendorong reaksi ke arah produksi. Katalis menambahkan jumlah kecil, cukup mempercepat reaksi tanpa menyebabkan degradasi senyawa.

  • Reaksi Esterifikasi Asam Karboksilat

Campuran kemudian memanaskan di reaktor tertutup pada suhu 120–150°C. Selama proses produksi ini, reaksi esterifikasi berlangsung secara bertahap. Reaktor mendesain agar tahan terhadap korosi akibat katalis ataupun dapat mempertahankan kondisi operasi tekanan relatif rendah namun efisien untuk pelepasan air.

Karena reaksi ini bersifat reversibel, maka salah satu strategi utama untuk mencapai konversi tinggi adalah dengan menghilangkan air dari sistem. Ini melakukan dengan teknik mendistilasi azeotropik, penghilangan air di bawah vakum, atau melalui penggunaan bahan penyerap air. Dengan demikian, proses reaksi akan terus berlangsung hingga seluruh di basik mengonversi menjadi ester.

  • Pendinginan & Pemisahan Fase

Setelah reaksi selesai, campuran mereaksikan mendinginkan hingga suhu ambient. Pada tahap ini, proses campuran mengandung dibasic ester, air, alkohol berlebih, katalis, serta sisa asam belum bereaksi. Fase organik & fase air akan terpisah secara gravitasi, di mana fase organik memisahkan untuk pemurnian lebih lanjut.

  • Netralisasi & Pencucian

Fase organik mengandung di basik ester memurnikan dari sisa katalis dengan menambahkan larutan basa (biasanya natrium karbonat atau soda api) untuk menetralkan keasaman. Campuran kemudian mencuci beberapa kali menggunakan air untuk menghilangkan garam terbentuk & sisa-sisa air. Proses pencucian ini melakukan secara berulang hingga memperoleh pH netral & kadar pengotor sangat rendah. Tahapan ini penting agar produksi dibasic ester tidak bersifat korosif & stabil secara kimia.

  • mendistilasi Vakum Asam Karboksilat

Setelah pencucian, produksi senyawa ini mengeringkan maupun mendistilasi di bawah tekanan rendah (vakum) untuk memisahkan alkohol berlebih serta menghilangkan residu air. Menstilasi vakum memungkinkan pemisahan ester-ester proses produksi estasol tanpa merusak struktur kimianya akibat suhu tinggi.

Mendistilasi juga dapat berkegunaan untuk memisahkan fraksi-fraksi DBE (DMA, DMG, DMS) apabila membutuhkan produksi dengan komposisi tertentu. Namun, banyak aplikasi industri, campuran ketiganya tetap mempertahankan karena menawarkan karakteristik pelarut optimal.

  1. Formulasi & Pengemasan

Produksi akhir berupa cairan bening, tidak berwarna serta memiliki bau khas ester. Proses DBE kemudian memformulasikan sesuai kebutuhan pengguna, baik bentuk murni, campuran, maupun aditif pelarut. Proses pengemasan melakukan drum baja, tangki stainless steel, atau wadah HDPE untuk distribusi ke industri pengguna akhir.

  1. Kontrol Kualitas Asam Karboksilat

Setiap batch proses estasol harus melewati kontrol mutu ketat di laboratorium. Parameter menguji antara lain:

  • Kemurnian ester total (umumnya > 99%).
  • Kadar air residual.
  • Nilai pH larutan dalam air.
  • Warna produksi (ASTM).
  • Komposisi fraksi ester (DMA, DMG, DMS).
  • Titik didih & tekanan uap.

Hasil pengujian ini memastikan bahwa produksi dibasic ester konsisten dan aman berguna sesuai spesifikasi teknis dari industri pengguna.

  1. Keunggulan & Aplikasi Industri

Proses DBE memiliki beberapa keunggulan membanding pelarut konvensional seperti toluena & xilena, antara lain:

  • Toksisitas rendah maupun ramah lingkungan.
  • Biodegradable (mudah terurai secara alami).
  • Tingkat penguapan rendah.
  • Kompatibel dengan berbagai resin, polimer & pelapis.
  • Bau tidak menyengat.

Demikian informasi mengenai Proses Produksi Dibasic Ester, silahkan hubungi kami di bawah ini, kami akan berikan harga terbaik untuk anda!

contact us